Reparadigma Metodologi

Mencermati kembali pengajaran disiplin ilmu hubungan dan hukum internasional menuntut perubahan metodologis strategi pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang semula mengedepankan aspek pemenuhan pengetahuan semata perlu reparadigma dengan pola komprehensif integral. Reparadigma ini menuntut sistem pembelajaran yang menghasilkan tidak saja aspek kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik yang tercermin dalam perubahan sikap perilaku dan cara berpikir.

Perkembagan dunia internasional masih mempola dalam hubungan-hubungan yang mencerminkan semangat berpihak dan besarnya kepentingan negara yang sekubu dalam mensikapi berbagai kenyataan empirik yang mereka hadapi. Pasca perang Irak membawa persoalan yang tidak berkesudahan, persoalan bom terorisme, sampai kasus-kasus di Indonesia seperti konflik yang pernah terjadi di NAD menghasilkan catatan panjang bagi pemulihan suatu kondisi yang normal. Walapun disadari korban dari kalangan sipil yang tidak tahu menahu atas pertikaian kekuasaan elit negara memberikan arti penting bahwa penyelesaian konflik bukan lagi didasari atas kepentingan golongan atau negara tetapi kepentingan masa depan peradaban umat manusia.

Mengkaji potret pertikaian dan pola penyelesaian yang dilakukan oleh PBB, lembaga internasional bahkan tawaran LSM merupakan kontribusi yang penting bagi pemaknaan secara naluriah untuk mengedepankan kembali nilai-nilai filosofis kemanusiaan, HAM. demokrasi dan penghormatan terhadap nilai kebersamaan dalam kedamaian merupakan ciri khas yang tidak dapat ditingggalkan bahkan menjadi pioner sebagai ujung tombak penyelesaian kasus internasional.

Dari uraian di atas terdapat faktor-faktor yang signifikan untuk dipikirkan kembali tentang sejauhmana kontribusi dunia perguruan tinggi terhadap penciptaan nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian yang harus diperhatikan kembali dalam metodologis pembelajaran sebagai berikut:
a. Analisis studi kasus.
b. Validitas, reliabilitas dan tindakan hasil riset
c. Konsekuensi sosial dan moral hasil riset.

Ad.a. Analsis studi kasus adalah mengembangkan pola pkir dan wawasan agar pola pembelajaran tidak bersifat kaku sehingga perlu dikembangkan dengan modifikasi strategi pembelajaran yang menuntut masing-masing pihak berorientasi pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Tidak dilupakan sesungguhnya interaksi tersebut menghasilkan pengembangan kepribadian, sikap dan perilaku ilmiah serta kepedulian yang tinggi atas nilai-nilai demokrasi, HAM dan masyarakat madani (civil society).

Ad.b. Pelajaran yang berharga dari hasil riset Ibrahim Al Marashi yang dimuat dalam Middle East Review of International Affairs dengan judul Iraq’s Security and Intelligence Network : A Guide and Analysis di tahun 1991. Data ini selanjutnya menjadi bahan dasar dokumen kedua bagi PM Inggris Tony Blair untuk memperkuat justifikasi tentang perlunya invasi di Irak untuk menggulingkan Presiden Saddam Husein. Blair menyampaikan dokumen berjudul: Iraq: Its Infrastructure of Concealment, Deception, and Intimidation pada Parlemen Inggris tanggal 3 Februari 2003. Data Marashi tersebut dijadikan bahan dasar bagi kaum intelejen untuk menjustifikasi dan merubah opini publik atas sikap kontra invasi ke Irak. Data tersebut sudah 12 tahun. Pengutipan mentah-mentah data tanpa ada konfirmasi atau studi kelayakan sangat berbahaya jika dijadikan dasar pengambilan kebijkan publik, apalagi menyangkut persoalan perang. Belajar dari kasus ini sesungguhnya banyak pihak harus menggadakan peninjauan kembali atas validitas dan reliabilitas data sampai dimana nilai data dapat kredibel apalagi dengan kurun waktu yang lama. Tindakan hasil riset sesungghnya mempunyai nilai penting bagi perubahan suatu komunitas. Keobjektifan data yang dipaparkan dalam riset bukan sekedar analisis biasa tetapi sudah merupakan keterkaitan dengan persoalan-persolan eksternal oleh karena publikasi hasil riset adalah hak prerogatif sosial yang tidak terbantahkan. Oleh sebab itu diperlukan kembali lembaga penguji hasil riset seperti uji publik judment by peers group sebelum dipasarkan ke masyarakat akademik baru apalagi masyarakat dalam konteks luas.

Ad.c. Berkaitan dengan yang pertama dan kedua adalah konsekuensi moral dan sosial atas hasil riset menjadi penting sejak peneliti memulai penelitiannya. Kesadaran akan nilai-nilai moral dan nilai-nilai sosial tidak saja terletak pada implisit dan eksplisitnya dalam hasil riset tetapi bersifat berkelanjutan dan berkesinambungan sampai hasil riset tersebut difalsifikasi oleh peneliti lain. Lembaga pemerintahan, LSM, lembaga sosial, perguruan tinggi termasuk pihak intelejen tidak serta merta mengutip tanpa ada konfirmasi dan studi kelayakan atas data dan fakta. Pihak pengguna hasil penelitian dituntut pula untuk bersikap dan bertanggungjawab secara sosial dan moral atas pengambilan data dan fakta hasil riset.

Ketiga hal ini menurut penulis perlu dikedepankan kembali agar kontribusi pemikiran dunia akademik tidak hanya terbatas pada selesainya riset akan tetapi nilai kemanfaatan riset dapat dipergunakan semaksimal mungkin tanpa meninggalkan nilai-nilai kebenaran dan kedamaian serta tetap bersikap dan bertanggungjawab atas penemuan dan penggunaan hasil riset.

Oleh Saifullah,

Pembantu Rektor II UIN MALIKI Malang, Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang dan Staff Pengajar di Fakultas Syari’ah dan Program Pascasarjana UIN Maliki Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *